Kebanyakan Burung Hantu memiliki kaki berbulu untuk melindungi dari udara dingin. Bulu ini juga berfungsi untuk sensor kontak dengan mangsa, dan melindunginya dari gigitan mangsa saat menangkap.
Kaki Burung Hantu memiliki empat jari. Saat terbang, tiga jari mengarah kedepan dan satunya kebelakang. Saat hinggap, atau mencengkeram mangsa, bagian ujung jari tiap kaki akan melengkung kearah samping. Hal ini dimungkinkan karena adanya sendi yang fleksibel.
Cakar Burung Hantu sangat kuat, karena digunakan untuk menangkap mangsa. Struktur tulang kakinya pendek dan kuat, sama dengan tulang pada burung lain. Ini berguna sebagai penahan dari tekanan mangsa. Saat menyerang mangsa, cakarnya direntangkan lebar untuk memperbesar peluang keberhasilan serangan.
Panjang, ketebalan dan warna cakar sangat beragam antar jenis Burung Hantu, tapi semua mempunyai cakar yang sangat tajam. Warnanya berkisar dari hampir hitam, kelabu, sampai kuning gading.
Bagian bawah kaki ditutupi oleh permukaan kasar yang membantu menahan mangsa atau bertengger. Tyto alba juga memiliki gurat-gurat dibagian bawah jari tengah untuk membantu menahan mangsa dan juga untuk grooming.
Seperti halnya burung pemangsa lainnya, Burung Hantu memiliki mekanisme penguncian di kakinya yang menjaga supaya jarinya terkunci pada tenggeran atau mangsa, tanpa memerlukan kontraksi otot.
Pada beberapa jenis Burung Hantu, diketahui bahwa kaki ikut membantu menjaga suhu tubuh. Kelebihan suhu tubuh dipancarkan melalui dasar kaki, yang memiliki pembuluh darah ekstra.
24 April 2008
21 April 2008
Semua Burung Hantu memiliki paruh yang pendek, melengkung, mengarah kebawah, dan ujungnya berkait. Paruh ini didesain secara khusus untuk mencengkeram dan merobek mangsa. Kekuatan penghancur paruh biasanya digunakan untuk membunuh mangsa.
Bagian tepi atas paruh bawah dan tepi bawah paruh atas saling terkatup membentuk tepi yang tajam, dan overlap membentuk seperti gunting. Ini memungkinkan untuk memotong jaringan dari mangsanya.
Paruhnya melengkung kebawah untuk menjaga supaya bidang pandang tetap jelas. Lubang hidung (nostril) ada di bagian dasar depan paruh, suatu daerah yang disebut dengan cere. Kebanyakan Burung Hantu memiliki kemampuan membau yang buruk.
Ujung paruh yang nampak, memiliki permukaan yang keras dan bertanduk. Bagian paruh bawah memiliki sendi berupa jaringan lentur yang tipis, yang memungkinkan untuk sedikit dimoncongkan kedepan. Burung lain juga memiliki gaya seperti ini, yang berguna sebagai komunikasi visual.
Beberapa jenis memiliki kemampuan untuk mengurangi suhu tubuh saat panas, dengan cara “terengah-engah” dengan membuka sebagian paruhnya.
19 April 2008
Saat Burung Hantu menetas, belum memiliki bulu terbang, tapi ditutupi oleh bulu bawah yang menjaganya tetap hangat. Bulu ini secara bertahap digantikan oleh bulu dewasa seiring pertumbuhannya. Bulu burung muda mirip dengan dewasa, tapi lebih pucat dan kadang dengan pola yang berbeda.
Penampakan warna burung dewasa berasal dari bulu dewasa. Selama daur hidup normal, bulu-bulu ini mengalami kerusakan akibat goresan, patah dan belitan.
Seperti burung lain, Burung Hantu secara teratur mengganti bulu-bulunya, yang disebut dengan moulting, Hal ini biasanya berlangsung setahun sekali, dimulai setelah induk selesai membesarkan anak sampai mampu terbang dan menjaga diri sendiri.
Prosesnya dapat mencapai 3 bulan, selama itu bulu-bulunya akan rontok dan tumbuh keseluruh tubuh kembali dengan pola standard. Untuk meminimalkan pengaruh molting pada kemampuan terbang dan menangkap mangsa, pola molting ini hanya memungkinkan beberapa bulu primer dan sekunder yang rontok dalam satu waktu.
Dengan perkecualian untuk Tyto alba, molting bulu sayap dimulai dari bagian dalam keluar. Pada Tyto alba bulu digantikan dari bagian tengah menuju luar sayap (dua arah). Bulu ekor juga rontok beberapa kali, kecuali pada beberapa jenis Tyto kecil, yang kehilangan bulu ekor sekaligus.
Saat burung molting, bulu baru akan tumbuh menggantikan yang rontok. Bulu baru tumbuh dari kulit, yang terikat kuat dengan jaringan tipis. Ini disebut dengan peniti bulu. Peniti ini segera membelah, memungkinkan bulu baru untuk tidak tergulung dan tumbuh dengan ukuran sempurna.
Secara umum, pola dan warna kriptik Burung Hantu memungkinkan untuk menyatu dengan keadaaan sekitarnya, untuk bersembunyi dari potensi bahaya. Hal ini khususnya penting bagi burung nokturnal, karena mereka perlu tetap bersembunyi saat bertengger di siang hari.
Saat terancam, seekor burung seringkali menunjukkan pose melindungi, dengan mata tertutup, bulu telinga terangkat, dan bulu yang merapat.
Bulu telinga tidak ada kaitannya dengan pendengaran, hanya berupa bulu tampilan saja, digunakan untuk menunjukkan suasan hati, seperti takut, marah dan terkejut. Ini juga membantu berkamuflase. Penting juga untuk dicatat meskipun burung dari satu jenis nampaknya mirip, namun tiap-tiap individunya memiliki sedikit perbedaan pola tanda.
17 April 2008
Kebanyak Burung Hantu memiliki sayap yang besar dan membulat. Sayapnya lebar, dengan luas permukaannya besar relatif terhadap bobot tubuh. Ini memungkinan mereka untuk terbang melayang dan dengan sedikit usaha, tanpa perlu banyak mengepakkan sayap dan kehilangan energi. Mereka dapat melayang dengan mudah dan terbang dengan pelan untuk periode waktu yang lama. Banyak jenis menggunakan terbang pelan ini untuk berburu mangsa permukaan daratan dari atas udara.
Terbang senyap membuat burung mampu menangkap mangsa tanpa ketahuan, dan juga menggunakannya untuk menentukan mangsa potensial. Adaptasi ini tidak selalu dijumpai pada semua Burung Hantu, khususnya yang berburu di siang hari.


15 April 2008
- Bulu Kontur yang menutupi tubuh, sayap (remiges) dan ekor (retrices)
- Bulu Bawah, bersifat lembut memerangkap udara dan membuat lapisan insulator pada tubuh.
- Semiplume, berfungsi mengisi antara bulu kontur dan bulu bawah.
- Bristle, adalah bulu kecil dengan ceruk kaku dengan kait pada bagian dasar atau tidak ada sama sekali. Bristle umumnya berada pada sekitar dasar paruh, mata, dan kelopak.
- Filoplume, bulu yang seperti rambut yang terdiri atas ceruk yang sangat halus, dengan sedikit kait pendek diujungnya. Umumnya ditutupi oleh bulu lain, sehingga dapat diatur dengan baik.

Adaptasi paling unik dari bulu Burung Hantu adalah ujung bulu primer sayap, yang seperti sisir. Pada kondisi penerbangan normal, udara bergejolak dipermukaan sayap, menciptakan turbulensi, dan menimbulkan suara. Dengan model sayapnya, ujung bulu sayap bentuk sisir, mematahkan turbulensi menjadi mikroturbulen. Hal ini efektif untuk meredam suara gejolak udara dipermukaan sayap dan memungkinkan burung untuk terbang tanpa suara.
10 April 2008
Seperti burung yang lain, Burung Hantu tidak dapat mengunyah makanan, mangsa kecil ditelan keseluruhan, sementara mangsa besar di cabik menjadi bagian kecil sebelum ditelan. Beberapa jenis mematahkan bagian tubuh mangsa burung atau mamalia yang lebih besar.
Tidak seperti burung lain, Burung Hantu tidak punya tembolok. Tembolok berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan untuk pencernaan berikutnya. Karena tidak punya tembolok, makanan diteruskan secara langsung kedalam saluran pencernaan.
Lambung burung terdiri dua bagian yaitu proventriculus dan ventriculus.
Bagian pertama adalah proventriculus, yang menghasilkan enzim, asam, dan mucus yang mengawali poses pencernaan.
Bagian kedua dalah ventriculus. Disini tidak ada kelenjar pencernaan, dan pada burung pemangsa ini berperan sebagai penyaring, penahan bagian tak tercerna seperti tulang, bulu, gigi.
Bagian makanan yang lunak dan larut, digiling oleh kontraksi otot, dan memungkinkan untuk masuk bagian sistem pencernaan berikutnya, yaitu usus besar dan kecil. Hati dan pankreas mensekresi enzim pencernaan kedalam usus kecil, dimana makanan akan diserap kedalam tubuh.
Bagian akhir saluran cerna adalah kloaka, yang menahan kotoran dari sistem pencernaan dan urinary. Penting untuk dicatat bahwa burung tidak punya kandung kemih (kecuali burung onta). Ekskresi dari kloaka sebagian besar bersifat asam, yang berupa tetesan putih.
Beberapa jam setelah makan, bagian tak tercerna (bulu, tulang, gigi yang masih didalam lambung) dipadatkan menjadi suatu pelet yang berbentuk sama seperti lambung. Pelet ini berjalan keluar dari lambung ke proventriculus. Pelet akan menetap disini sampai 10 jam sebelum dimuntahkan (regurgitasi). Karena pelet menghalangi sebagian saluran cerna, mangsa baru tidak dapat ditelan sampai pelet dimuntahkan. Pemuntahan seringkali menjadi petunjuk bahwa burung siap untuk makan kembali. Saat burung makan lebih dari satu mangsa dalam beberapa jam, beberapa komponen akan dimampatkan dalam satu pelet.
Siklus pelet bersifat teratur, sisa dimuntahkan saat saluran cerna selesai menyerap nutrisi dari makanan. Hal ini seringkali dilakukan pada tempat bertengger favorit. Saat seekor Burung Hantu akan menghasilkan pelet, akan menampakkan ekspresi kesakitan – mata tertutup, wajah menyempit, dan enggan terbang. Pada saat pengeluaran, leher dipanjangkan kedepan, paruh terbuka, dan pelet dengan mudahnya dikeluarkan tanpa ada gerakan meludah atau tersedak (retching).
Pelet Burung Hantu berbeda dari burung pemangsa lain, dimana mengandung bagian besar sisa makanan. Hal ini disebabkan cairan lambung kurang bersifat asam dibanding burung pemangsa lain. Burung pemangsa lain juga cenderung untuk lebih mencabik-cabik mangsanya daripada Burung Hantu.